KIBARKAN TRIPANJI PEMBEBASAN NASIONAL 1. HAPUSKAN HUTANG LUAR NEGERI 2. NASIONALISASI ASSET ASING 3. INDUSTRIALISASI NASIONAL

Selasa, 11 Agustus 2009

SOSIALISME DAN MASA DEPAN

Oleh Ernest Mandel

Sejak pertengahan 1970-an satu pembusukan atas keseimbangan kekuatan antar kelas telah terjadi dalam skala dunia. Alasan utamanya adalah terjadinya serangan gelombang depresi berkepanjangan terhadap perekonomian kapitalis dengan terus bertambahnya jumlah pengangguran. Di negeri-negeri imperialis, jumlah pengangguran telah bertambah dari 10 juta menjadi 50 juta orang; di Dunia Ketiga, jumlah ini telah menjadi 500 juta orang. Di banyak negeri yang disebut terakhir, ini berarti 50% atau lebih dari jumlah penduduk tidak dapat memperoleh pekerjaan.

Peningkatan yang tajam dalam jumlah pengangguran ini, dan ketakutan mereka yang sekarang bekerja akan kemungkinan dipecat, telah melemahkan kelas pekerja dan memberi kesempatan bagi kaum kapitalis di seluruh dunia untuk melancarkan serangan demi peningkatan laba melalui penekanan terhadap tingkat upah riil dan pemotongan terhadap biaya-biaya kesejahteraan sosial dan pelayanan masyarakat. Gelombang ofensif neo-konservatisme hanya merupakan ekspresi ideologis dari serangan sosial-ekonomi mereka.

Mayoritas besar dari kepemimpinan partai-partai massa yang mengaku dirinya sosialis telah takluk oleh serangan kapitalisme ini, dan telah pula menerima politik penetatan ekonomi; hal mana dapat dilihat dari berbagai macam negeri: dari Perancis, Spanyol, Belanda, Swedia, Venezuela, sampai Peru. Semua ini telah membingungkan kelas pekerja dan, selama keseluruhan masa ini, telah mempersulit massa pekerja untuk membangun pertahanan mereka.

Ketaklukan kaum sosial demokrasi ini telah bergandengan tangan dengan dampak ideologi dan politik dari krisis atas sistem yang berlaku di Eropa Timur, bekas Uni Sovyet, Republik Rakyat Tiongkok dan Indochina. Hal mana telah mematangkan satu krisis yang mendasar dan hampir mendunia tentang nama baik sosialisme.

Di mata mayoritas besar penduduk planet ini, dua pengalaman historis mendasar dalam pembangunan masyarakat tanpa kelas - Stalinis-post Stanlinis/Maois dan Sosial Demokrasi - telah gagal.

Tentu massa sangatlah memahami bahwa kegagalan ini adalah satu kegagalan dari sebuah tujuan sosial yang radikal secara keseluruhan. Tapi pemahaman ini tidaklah bermakna satu penilaian negatif terhadap perubahan-perubahan sosial yang kongkrit yang telah terjadi, yang menguntungan kaum tertindas. Dalam pemahaman ini, neraca atas aktivitas gerakan buruh internasional dan cabang-cabangnya selama 150 tahun terakhir ini tetaplah menunjukkan angka positif.

Namun hal ini tidak lantas bermakna bahwa jutaan kaum pekerja akan percaya bahwa perjuangan-perjuangan jangka pendek akan perlahan-lahan membawa mereka pada perjuangan untuk menggulingkan kapitalisme dan membangkitkan satu masyarakat tanpa kelas, tanpa penghisapan, penindasan, ketidakadilan atau kekerasan massa. Ketiadaan keyakinan ini menyebabkan perjuangan jangka pendek menjadi terpecah-pecah dan tidak bersinambung, tanpa arah politik besar yang jelas.

Inisiatif politik kini berada di tangan kaum imperialis, kaum burjuasi dan agen-agen mereka. Hal ini nampak jelas dari apa yang sedang terjadi di Eropa Timur di mana kejatuhan diktatur biorokratik di sana akibat tekanan perjuangan massa bukannya membawa pada inisiatif politik ke arah sosialisme, tapi justru ke arah pemulihan kapitalisme. Hal yang sama mulai nampak terjadi di Uni Sovyet.

Massa rakyat pekerja di Eropa Timur dan bekas Uni Sovyet, tidak boleh dilupakan di Kamboja, mempersamakan kediktaturan Stalinis dan post-Stalinis sebagai Marxisme dan sosialisme, dan mereka menolak keduanya dengan sama kerasnya. Stalin telah membunuh jutaan kaum Komunis dan menindas jutaan kaum pekerja dan kaum tani. Ini bukan produk dari Marxisme, sosialisme atau revolusi; ini adalah produk dari sebuah kontrarevolusi berdarah. Namun bahwa kaum pekerja tetap melihat hal ini secara demikian adalah suatu fakta yang harus dipikul oleh realitas politik dan sosial internasional.

Krisis nama baik sosialisme menjelaskan terjadinya kontradiksi mendasar dari situasi dunia di masa massa rakyat pekerja sedang berjuang di banyak negeri, sering dalam skala yang jauh lebih besar dari yang pernah terjadi sebelumnya.

Di satu pihak, kaum imperilis dan burjuasi internasional tidaklah mampu meremukkan gerakan kaum pekerja seperti yang dapat mereka lakukan dulu di tahun 1930-an dan awal 1940-an di kota-kota besasr Eropa dan Jepan dan di banyak negeri lain. Tapi, di pihak lain, massa kaum pekerjabelumlah siap untuk berjuang demi satu penyelesaian anti kapitalisme yang bersifat mendunia. Karena inilah kita sekarang berada dalam satu krisis dan kekacauan yang mendunia di mana tidak satupun kelas sosial yang sanggup meyakinkan satu kemenangan yang menentukan.

Tugas utama dari kaum sosialis dan komunis adalah untuk mengembalikan nama baik sosialisme dalam kesadaran jutaan kaum pria dan wanita pekerja. Hal ini hanya akan dimungkinkan apabila titik start kita ditempatkan di jantung kebutuhan dan kekuatiran massa rakyat. Semua bentuk ekonomi-politik alternatif harus mencakup tawaran-tawaran ini. Tawaran yang memberikan bantuan yang paling kongkrit dan efisien kepada massa rakyat supaya berhasil dalam perjuangan memenuhi kebutuhan mereka.

Kita dapat merumuskan ini dalam istilah yang hampir-hampir terdengar seperti kitab suci: hapuskan kelaparan, beri pakaian pada mereka yang telanjang, beri penghidupan yang bermartabat pada setiap orang, selamatkan hidup mereka yang kekurangan perawatan kesehatan, buka lebar kesempatan untuk menikmati kehidupan berbudaya termasuk penghapusan buta huruf, sebarkan kebebasan demokratik dan hak asasi manusia ke seluruh dunia, dan hapurskan kekerasan penindasan dalam segala bentuknya.

Tidak satupun dari tawaran ini bersifat dogmatik atau utopian. Sekalipun massa rakyat tidak akan siap untuk sebuah revolusi sosialis, mereka akan menerima baik tujuan-tujuan ini jika disajikan dalam bentuk-bentuk yang paling kongkrit. Bentuk-bentuk kongkrit ini akan melecut satu perjuangan yang lebih luas dalam berbagai bentuk dan kombinasi. Supaya demikian kita harus mencoba merumuskan tawaran-tawaran kita dalam bentuk yang paling kongkrit. Apa model produksi makanan yang paling dimungkinkan? Dengan teknik pertanian apa model itu dapat dikerjakan? Di mana dapat dikerjakan? Hasil apa yang dapat diharapkan? Di negeri mana model ini dapat dikerjakan dengan skala poduksi yang paling besar?

Namun jika kita memeriksa keadaan-keadaan yang dituntut sebagai syarat tercapainya tujuan-tujuan ini, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa program semacam itu membutuhkan satu pemerataan radikal terhadap penguasan atas sumber-sumber alam. Untuk itu dibutuhkan satu perubahan radikal dalam susunan kekuatan sosial yang menentukan dalam pengambilan keputusan tentang pemanfaan sumber-sumber alam ini. Kita harus yakin bahwa massa rakyat yang sedang berjuang untuk tujuan-tujuan di atas tidak akan meninggalkan perjuangan mereka demikian kenyataan menunjukkan bahwa langkah-langkah radikal itu perlu diambil.

Di sini letaknya satu tantangan kesejarahan yang kini dihadapi oleh gerakan sosialis: mereka harus mampu, dalam keadaan yang tidak menguntungkan ini, untuk memimpin perjuangan massa yang seluas mungkin untuk mewujudkan apa yang saat ini paling dibutuhkan oleh umat manusia.

Di dalam masyarakat masa kini yang telah kehilangan tujuan jangka pendek dan menengahnya ini, mungkinkah tersedia model alternatif di mana rakyat terlibat dalam pengambilan keputusan riil - dalam waktu dekat ini? Saya pikir ini adalah cara bertanya yang salah. Jleaslah bahwa tiada cara untuk menghindarkan masalah siapa yang memegang kekuasaan politik. Tapi bentuk kongkrit dari perjuangan menuju kekuasaan dan, di atas segalanya, bentuk kekuasaan politik kongkrit dari negara, tidak boleh diputuskan sebelum proses perjuangannya dimulai. Di atas segalanya, perumusan tujuan-tujuan kongkrit, dan bentuk perjuangan kongkrit untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan tertentu, tidak boleh ditempatkan di bawah tujuan-tujuan yang mungkin dicapai dalam bidang politik dalam jangka pendek.

Sebaliknya, tujuan-tujuan dan bentuk-bentuk perjuangan harus ditentukan tanpa prasangka politik apapun. Rumus yang harus digunakan adalah rumus yang dikemukakan oleh ahli taktik besar Napoleon Bonaparte, yang kerap diulangi oleh Lenin: "on s'engage et puis on voit" - kita ikut bertempur dulu, baru kita lihat nanti.

Inilah cara yang ditempuh oleh gerakan buruh internasional di masa-masa aktivitasnya yang paling mengagumkan ketika mereka mengibarkan kampanye untuk dua tujuan pokok: delapan jam kerja dan hak pilih untuk semua orang.

Tidak dapatkah imperialisme modern, dengan kerjasamanya yang erat dengan kapital-kapital besar, menghalangi terwujudnya tujuan-tujuan kita di negeri-negeri seperti di Amerika Latin? Tidak dapatkah imperialisme menghalangi pencurahan kapital dan pengalihan teknologi secara lebih hebat daripada seperti yang telah dilakukannya sekarang melalui tekanan-tekanan IMF dan Bank Dunia?

Sekali lagi, saya berpendapat bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan menjebak kita. Sebenarnya tidak ada yang dapat meramalkan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Dalam analisa puncak, semuanya akan tergantung pada keseimbangan kekuatan. Namun keseimbangan ini tidak dapat diramalkan sebelumnya dan terus mengalami perubahan.

Lebih jauh lagi, perjuangan untuk mencapai tujuan-tujuan yang realistis, yang dilakukan dengan aksi massa, adalah satu-satunya cara untuk mengubah keseimbangan kekuatan ke arah yang menguntungkan kaum pekerja dan bagi semua kaum tertindas dan terhisap.

Tidak boleh pula dilupakan bahwa imperialisme pun sedang mengalami krisis mendasar akan kepemimpinannya. Walaupun dapat mengukuhkan dominasi militernya, imperialisme Amerika Serikat telah pula kehilangan dominasi teknologi dan keuangannya. Amerika Serikat tidak lagi dapat memaksakan kehendaknya pada pesaing-pesaing utamanya, imperialisme Jepang dan Jerman. Amerika Serikat juga tidak lagi dapat mengendalikan kemungkinan-kemungkinan reaksi massa di negerinya sendiri maupun pada skala internasional.

Di bawah keadaan ini, terdapatlah banyak kemungkinan untuk keberhasilan perjuangan demi penundaan pembayaran utang luar negeri. Kelihatannya sangat tidak mungkin jika pemerintah-pemerintah di Amerika Latin atau di Dunia Ketiga akan mengambil langkah ini. Tapi jika saja satu negeri seperti Brasil, dengan kemenangan PT (Partido dos Trabalhadores - Partai Buruh), dapat melakukan itu, kita tidak akan dapat meramalkan apa reaksi kaum imperialis. Mereka dapat memaksakan satu blokade ekonomi, tapi jauh lebih sulit memblokade Brasil, negeri termaju di Amerika Latin, daripada memblokade negeri yang lebih kecil seperti Kuba atau Nikaragua.

Dan Brasil dapat membalas dengan langkah-langkah politik. Mereka dapat membalas dengan satu perjanjian ekonomi a la Brest-Litovsk, memimpin banyak negeri dan massa rakyatnya untuk berseru: "Apakah kalian setuju bahwa rakyat kita telah dihukum semata karena kita ingin menghapuskan kelaparan, penyakit dan pelanggaran hak asasi manusia?" Jawaban dari massa pekerja tentu bukan kesimpulan yang pasti, bisa tidak bergairah, bisa sangat positif. Namun, bagaimanapun, itu akan menjadi satu pertempuran besar yang akan mengubah situasi politik dunia. Pertempuran yang akan memberi peluang perubahan dalam keseimbangan kekuatan; yang akan memulihkan kepercayaan akan kemungkinan terwujudnya dunia yang lebih baik.

Tema-tema ini adalah pendekatan metodologis mendasar dari Karl Marx: perjuangan menuju sosialisme bukanlah tuntutan-tuntutan yang dogmatis, sektarian dan tidak fair berdasarkan kemauan sendiri terhadap gerakan riil yang terjadi di tengah massa. Semua tuntutan itu haruslah merupakan pernyataan sadar dari gerakan itu sendiri, di mana benih-benih dasar dari satu masyarakat yang baru dapat tumbuh di tengah ladang susunan masyarakat terdahulu.

Kita dapat menggambarkan tema-tema ini dalam hubungannya dengan problem mendasar saat ini. Perusahaan-perusahaan multinasional menjalankan satu dominasi yang semakin hari semakin besar terhadap sektor-sektor lain dalam pasar dunia. Perusahaan-perusahaan ini mewakili satu bentuk unggul dari pemusatan modal internasional. Hal ini pula yang menjadikan perjuangan kelas menjadi mendunia.

Sayangnya, kaum burjuasi internasional jauh lebih siap dan seirama daripada kelas pekerja. Secara mendasar hanya ada dua jawaban yang mungkin diajukan oleh kelas pekerja terhadap aksi-aksi perusahaan-perusahaan multinasional itu: atau mereka mundur ke arah proteksionisme dan mempertahankan apa yang disebut "daya saing nasional," yaitu kongkalikong kelas pekerja dengan kaum majikan dan pemerintah nasional melawan "orang-orang Jepang," "orang-orang Jerman," atau "orang-orang Mexico." Atau kelas pekerja menjalin solidaritas (bela-rasa) dengan kaum pekerja di seluruh dunia melawan semua penghisap, baik yang nasional maupun yang internasional.

Dalam hal yang pertama, kita takkan dapat menghindarkan terjadinya lingkaran setan pemotongan upah , pemotongan dana kesejahteraan sosial dan penurunan tingkat kondisi kerja di semua negeri. Karena perusahaan-perusahaan multinasional akan selalu dapat memeras satu negeri dengan upah rendah, memindah-mindahkan pabrik atau mengancam gerakan buruh untuk memberi konsesi-konsesi.

Dalam hal yang kedua, setidaknya ada kemungkinan untuk membalik lingkaran setan itu menuju peningkatan terhadap upah, peningkatan dana kesejahteraan sosial di negeri-negeri kurang berkembang dan menipiskan perbedaan standard hidup ke arah yang lebih positif.

Kemungkinan jawaban yang kedua ini sama sekali tidak bertentangan dengan pengembangan ekonomi atau penciptaan lapangan kerja di Dunia Ketiga. Apa yang ditujunya adalah sebuah model pembangunan yang tidak didasarkan pada promosi tenaga kerja murah, tapi justru pada pertumbuhan pasar nasional dan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat.

Perjuangan untuk jawaban internasionali terhadap gelombang serangan perusahaan-perusahaan multinasional ini menuntut satu inisiatif yang kongkrit dan segera di tingkat serikat-serikat buruh, terutama di antara perwakilan-perwakilan mereka. Perjuangan ini juga menuntut satu inisiatif yang mandiri dan militan dari jajaran dan barisan kaum pekerja di seluruh dunia yang bekerja pada setiap pabrik-pabrik multinasional atau pada setiap cabang industrinya. Hal ini telah dimulai secara nyata walau dalam skala kecil; NAFTA (North American Free Trade Agreement - Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara), upaya untuk mengubah Mexico menjadi satu maquiladora (zona "perdagangan bebas" berupah murah), telah membuka jalan untuk jawaban kaum pekerja ini dan telah diperluas ke seluruh Amerika Latin dalam gerakan yang disebut Initiative for America.

Pada waktu yang sama, apa yang disebut gerakan sosial baru itu hanyalah merupakan cerminan dari kepedihan dari lapisan sosial yang besar yang dipinggirkan oleh dinamika kapitalisme modern. Dinamika ini mengandung bahaya bahwa lapisan sosial ini akan semakin terdepolitisasi dan akan menjadi satu basis sosial bagi serangan kaum sayap kanan, termasuk kaum neo-fasis, terhadap demokrasi itu sendiri. Semua politik "perdamaian sosial" atau konsensi-konsesi aspal dengan kaum burjuasi hanya akan menghasilkan kesan bahwa tidak terbuka lagi pilihan politik lain dan, dengan demikian, justru akan memperburuk keadaan. Inilah mengapa sangatlah openting bagi gerakan buruh untuk menegakkan satu aliansi struktural dengan kaum "kelas bawah," yang tidak teorganisir itu, untuk membantu mereka mengorganisir diri, mempertahankan diri sendiri dan memperoleh harga diri dan harapan.

Dalam semua contoh-contoh di atas, hal ini harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak dogmatik, bebas dari sikap benar sendiri. Pembangunan sosialisme adalah satu laboratorium raksasa di mana terjadi berbagai pengalaman baru yang belum dapat dipahami sepenuhnya. Kita harus belajar dari pengalaman, terutama dari tengah massa. Untuk alasan ini, kita harus terbuka terhadap dialog dan diskusi-diskusi yang sehat dengan seluruh cabang aliran kiri, yang masing-masing mempertahankan prinsip-prinsip aliran dan organisasinya dengan teguh.

Dalam lingkup yang lebih besar, kita harus memperhitungkan fakta bahwa taruhannya saat ini sangatlah dramatik: sekarang taruhannya adalah kelangsungan hidup umat manusia itu sendiri. Kelaparan, penyakit menular, bom nuklir, pencemaran lingkungan yang dahsyat: semua ini adalah kenyataan mendasar dari kekacauan dunia kapitalis dulu dan sekarang.

Di Dunia Ketiga, 16 juta anak meninggal karena kelaparan atau penyakit (yang seharusnya dapat diobati) setiap tahun. Ini setara dengan 25% dari seluruh kematian yang terjadi dalam Perang Dunia II, termasuk Hiroshima dan Auschwitz. Dengan kata lain, setiap empat tahun terjadi Perang Dunia yang hanya memakan korban anak-anak. Ini adalah kenyataan dalam era imperialisme dan kapitalisme saat ini.

Realitas yang bertentangan dengan rasa kemanusiaan ini menghasilkan akibat-akibat politik dan ideologi. Di timur laut Brasil, kekurangan vitamin dalam makanan kaum miskin telah menghasilkan satu spesies pygmi baru, laki-laki dan perempuan yang mengalami perubahan fisik sehingga mereka tumbuh 30 sentimeter lebih pendek dari rata-rata penduduk lainnya. Ada jutaan kaum tak beruntung ini, yang diberi sebutan "manusia tikus" oleh kelas berkuasa dan agen-agen mereka, dengan perlakuan yang setara dengan sebutan itu. Perlakuan-perlakuan yang mengingatkan kita akan perlakuan Nazi dahulu terhadap kaum cacat.

Dengan pemulihan kapitalisme di Eropa Timur dan bekas Uni Sovyet, segala hal yang bersifat barbar dan kemunduran-kemunduran sosial mulai bermunculan. Privatisasi terhadap perusahaan-perusahaan besar dapat menghasilkan 30-40 juta kaum penganggur dan penurunan tingkat upah sampai 40%.

Sosialisme dapat memperoleh kembali nama baiknya dan keampuhannya hanya apabila ia siap untuk menjadikan dirinya sebagai alat perjuangan melawan segala ancaman ini. Hal ini menuntut tiga syarat;

Pertama, sekali-kali tidaklah boleh sosialisme menempatkan dukungannya terhadap perjuangan sosial massa sebagai bagian dari proyek politik apapun. Kita harus berada tanpa syarat di tengah massa dalam tiap perjuangannya;

Kedua, kita harus mengusung propaganda dan pendidikan di tengah massa untuk sebuah model sosialisme yang memperhitungkan segala pengalaman dan bentuk-bentuk kesadaran dari dasawarsa mutakhir;

Kita harus membela satu model sosialisme yang secara menyeluruh melibatkan peran serta massa di segala bidang kehidupan. Sosialisme macam ini haruslah berwatak mandiri, feminis, pro-lingkungan, pembela perdamaian yang radikal, pluralistik. Sosialisme ini juga harus memperluas kualitas demokrasi, internasionalis dan pluralis - termasuk membela sistem mulipartai.

Namun demikian, sangatlah penting untuk membangkitkan kemandirian kaum yang bekerja sehari-hari dalam proses produksi. Emansipasi yang tidak akan mungkin tercapai tanpa melenyapnya batas-batas sosial atas kerja antara mereka yang langsung menghasilkan barang dan mereka yang mengurus administrasi.

Kaum penghasil langsung itu haruslah menggenggam kuasa riil atas pengambilan keputusan mengenai apa yang akan mereka hasilkan dan berapa yang akan mereka terima dari hasil produksi mereka. Kuasa ini haruslah dijalankan dengan cara-cara yang sungguh-sungguh demokratik; yaitu yang menggambarkan kehendak nyata dari massa. Hal ini tidak akan mungkin dicapai tanpa pluralisme multi-partai dan kemungkinan bagi massa untuk memilih dari berbagai macam rencana ekonomi terpusat yang kongkrit. Hal ini juga tidak akan tercapai tanpa pengurangan yang radikal atas beban kerja harian dan mingguan.

Kurang atau lebih, tiap orang setuju bahwa terdapat pertambahan dalam tingkat korupsi dan kejahatan di dalam masyarakat burjuasi dan di masyarakat bekas sosialis. Merupakan satu mimpi yang tidak realitis untuk berharap adanya perbaikan moral dalam masyarakat dan negara tapa adanya pengurangan yang radikal atas makna penting uang dan ekonomi pasar.

Satu pemahaman yang serasi akan sosialisme tidak akan dapat dicapai tanpa perlawanan yang sistematis atas kerakusan dan pengejaran laba karena kita tahu apa akibat dua hal itu pada masyarakat. Kita harus memberikan prioritas pada pembangunan bela-rasa dan kerjasama di tengah masyarakat. Semua ini mengandaikan terjadinya satu pengurangan yang tajam atas pentingnya uang dalam masyarakat itu.

Kondisi yang ketiga adalah penolakan dari kaum sosialis dan komunis atas semua praktek yang paternalistik, palsu dan elitis. Kita harus merenungkan dan menyampaikan sumbangan Karl Marx yang utama pada dunia politik: kebangkitan kemandirian kaum pekerja akan menjadi karya dari kaum pekerja itu sendiri. Kebangkitan ini tidak dapat dikerjakan oleh negara, pemerintah, partai, bahkan para pemimpin atau pakar yang paling tidak bercacat sekalipun. Semua hal itu berguna, bahkan tak ternilai harganya, dalam perjuangan untuk mencapai emansipasi itu. Tapi mereka hanya akan dapat membantu massa agar dapat membebaskan diri mereka sendiri, mereka tidak dapat menggantikan peran massa dalam proses itu. Percobaan untuk memaksakan nilai-nilai kebahagiaan yang bertentangan dengan kehendak massa bukan hanya tidak bermoral tapi juga tidak akan berjalan. Ini adalah salah satu pelajaran mendasar yang dapat kita tarik dari keruntuhan diktatur birokratik di Eropa Timur dan Uni Sovyet.

Praktek kaum sosialis dan komunis haruslah konsisten dengan prinsip-prinsip mereka. Kita tidak boleh membenarkan praktek apapun yang berbau menindas dan mengasingkan. Kita harus, dalam praktek, mewujudkan apa yang disebut Karl Marx sebagai perintah-kategorikal: keharusan berjuang melawan segala keadaan di mana umat manusia diasingkan dan dihinakan. Jika praktek kita sejalan dengan perintah ini, sosialisme akan kembali menjadi kekuatan yang tidak akan pernah dapat terpatahkan.

[diterjemahkan dari "Socialism and the Future" oleh Ernest Mandel, diambil dari situs GreenLeft Weekly http://jinx.sistm.unsw.edu.au/~greenlft/1992/74/74cen.htm. Artikel asli dimuat dalam International Viewpoint. Teks ini adalah pidato yang dibacakan pada pertemuan ketiga Forum Sao Paulo bagi Partai-partai Kiri, yang diadakan di Nikaragua, Juli 1992.]

0 komentar:

Poskan Komentar

BUKU TAMU


ShoutMix chat widget
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger