KIBARKAN TRIPANJI PEMBEBASAN NASIONAL 1. HAPUSKAN HUTANG LUAR NEGERI 2. NASIONALISASI ASSET ASING 3. INDUSTRIALISASI NASIONAL

Selasa, 11 Agustus 2009

SASTRA PERLAWANAN

Sumber :Wahana, Jakarta: Friday, December 26, 2003 3:00 PM
Subject: Pengantar Martin Aleida




TIDAK MENYERAH [1]

Oleh Asvi Warman Adam[2]



Pulangnya si Anak Hilang

Jatuhnya Soeharto telah membuka peluang bagi munculnya karya sastra yang
selama Orde Baru terlarang. Tiga dekade keberadaan rezim militer itu identik
dengan kematian sastra kiri, yaitu karya yang ditulis oleh pengarang yang
dianggap "terlibat G30S secara langsung atau tidak langsung". Tentu saja ada
perlawanan selama ini, Pramoedya Ananta Toer terus menulis bahkan
menghasilkan karya yang monumental selama di kamp konsentrasi pulau Buru.
Tetapi karya-karya itu tidak boleh beredar di tengah masyarakat Indonesia.

Demikian pula yang dialami Martin Aleida yang kiprahnya di dunia sastra
tersumbat selama lebih dari 30 tahun. Barulah sejak pertengahan 1998 Martin
Aleida bisa menerbitkan paling sedikit empat buku yaitu Malam Kelabu,
Ilyana dan Aku (kumpulan cerpen), Layang-Layang tidak lagi mengepak
tinggi-tinggi (novelet), Perempuan Depan Kaca (kumpulan cerpen). Yang
terakhir adalah Leontin Dewangga (kumpulan cerpen) yang Anda baca ini
sekarang ini.

Martin Aleida lahir di Tanjung Balai, Sumatera Utara, 31 Desember 1943. Ia
mendarat di Jakarta tahun 1963. Semula bernama Nurlan, ia aktifis Lekra
Jakarta Raya. Setelah meletus peristiwa G30S 1965 ia kemudian ditangkap
tahun 1966 dan ditahan selama beberapa waktu. Setelah berganti-ganti
pekerjaan (buruh bangunan, pelayan restoran, penjaga kios, pedagang kaki
lima) dengan nama pena Martin Aleida ia menjadi wartawan majalah Tempo
selama 13 tahun. Ketika identitasnya diketahui aparat intelijen, ia
terpaksa berpindah kerja sebagai staf lokal Kantor Penerangan Perserikatan
Bangsa-Bangsa (UNIC) selama 10 tahun.

Pengarang lain pun banyak yang bernasib serupa. Si Rangka kumpulan cerpen
Rijono Pratikto diterbitkan ulang oleh Pustaka Jaya tahun ini. Cerpen ini
pernah dimasukkan oleh HB Jassin dalam buku Gema Tanah Air yang
disuntingnya, memperlihatkan salah satu genre cerpen Indonesia dengan tema
seram. Namun kemudian pengarang ini dan karyanya dicekal karena dia dituduh
terlibat G30S. Rijono Pratikto adalah dosen komunikasi di Universitas
Padjadjaran Bandung.

Sebelum ini Pustaka Jaya juga menerbitkan buku Perang dan Kembang yang
ditulis oleh Asahan Alham. Pengarang ini adalah adik kandung dari tokoh PKI
D.N.Aidit. Asahan kini bermukim di negeri Belanda. Ia sempat meraih doktor
linguistik di Vietnam. Latar belakang yang dilukiskan oleh Asahan
betul-betul menakjubkan, pengalaman di sana dipadukan dengan imajinasi
tentang perang Vietnam yang menggetarkan dihias dengan romantika percintaan
yang hidup. Buku tersebut memperkaya wilayah penceritaan sastrawan Indonesia
yang tidak lagi terbatas kepada Nusantara saja. Memang sebelumnya pernah
terbit novelet Tuyet dengan nuansa Vietnam yang ditulis oleh pengarang
angkatan 66, Bur Rasuanto. Namun tugas jurnalistik yang dijalani Bur di sana
tentulah tidak seintens pengalaman tinggal sekian tahun di Vietnam yang
dimiliki Asahan.

Contoh yang disebutkan di atas memperlihatkan bahwa sastrawan yang tergolong
kiri baik yang berada di Indonesia atau yang bermukim di luar negeri
(dikenal dengan sebutan eksil) -- di balik pencekalan atau pengucilan
mereka -- telah menyumbang kepada khazanah kekayaan sastra nasional. Tentu
contoh yang disebutkan di atas di luar karya-karya Pram yang sudah beberapa
kali dicetak ulang. Khusus para eksil ini telah menerbitkan sebuah kumpulan
puisi bersama.

Tidak semua penulis ini terutama yang berdiam di luar negeri mampu
menyampaikan ide-idenya dengan bagus. Terpisah sekian puluh tahun dengan
suasana tanah air, menyebabkan mereka putus hubungan dan tidak mengikuti
perkembangan baru yang terjadi di Indonesia. Dalam naskah penulis T. yang
sempat saya baca, terlihat bahwa yang diceritakan adalah kisah dengan
suasana tahun 50-an, dengan pilihan kata yang terasa ganjil bagi pembaca
yang berdiam di Indonesia.

Namun secara keseluruhan para sastrawan kiri ini telah menyemarakkan dunia
kesusasteraan Indonesia. Kehadiran mereka kembali bagaikan "pulangnya si
anak hilang". Bukan kehadiran fisik yang sangat penting, tetapi semangat
untuk mengangkat tragedi kemanusiaan yang pernah dialami bangsa ini menjadi
latar atau tema cerita, itu yang lebih berarti. Ini pada gilirannya akan
melahirkan generasi baru sastra yang tidak takut lagi menjelajahi wilayah
terlarang selama 30 tahun itu.

Tahun 1960-an memang masa yang gegap gempita di dunia politik dan sastra.
Perdebatan intensif tentang "sastra untuk rakyat' versus "sastra untuk
sastra" telah bercampur aroma politik. Aksi sepihak betapapun bagus sebagai
gagasan, tidak dapat dipungkiri telah bermuara kepada konflik. Semuanya
menjadi pelajaran berharga untuk hari ini dan masa mendatang agar kita dapat
lebih arif menyikapi perbedaan.

Ide tentang "mencicil utang sejarah" yang pernah terdengar pada dekade 60-an
berkenaan dengan upaya seniman dan sastrawan membuat karya yang bertema
peristiwa sejarah yang penting, layak dikaji ulang. Namun terlepas dari
semua itu, dalam suasana kehidupan berbangsa-bernegara yang tak kunjung
keluar dari krisis serta kembali merajalelanya tirani-tirani baru, yang
lebih mendesak adalah penciptaan sastra perlawanan.




Sastra Perlawanan


Buku Leontin Dewangga terdiri dari 17 buah cerpen. Tiga buah cerpen yang
pertama "Malam Kelabu", "Leontin Dewangga" dan "Ode untuk selembar KTP"
berlatar peristiwa 1965. Peristiwa 1965 yang diawali dengan penculikan para
jenderal oleh pasukan Cakrabirawa pada subuh 1 Oktober merupakan konflik
yang terpanjang dalam sejarah nasional setelah merdeka. Satu-satunya konflik
vertikal dan horizontal yang merombak tatanan politik, ekonomi dan sosial
bangsa Indonesia secara drastis. Di balik perubahan besar itu, yang terjadi
adalah penderitaan berpuluh-puluh tahun bagi mereka yang dituduh terlibat
beserta keluarganya tanpa kecuali. Kesengsaraan dan stigma buruk itu tetap
membekas sampai hari ini.

Penangkapan, pembantaian, penahanan tanpa batas waktu dialami oleh mereka
yang dituduh terlibat gerakan itu maupun orang-orang yang kebetulan bernasib
sial. Tidak terbayangkan penderitaan batin para korban serta kehancuran
keluarga yang diakibatkan oleh peristiwa berdarah ini. Perempuan yang
menjadi anggota keluarga tak terhindar dari perkosaan (yang kadang-kadang
tidak sekali dan secara bergulir). Setelah dikeluarkan dari tahanan, eks
tapol itu masih dipekerjakan secara paksa dan tanpa bayar oleh pejabat
militer.



Cerpen "Malam Kelabu" menceritakan tentang seorang pemuda asal Sumatera
Utara yang pergi melamar calon istrinya di sebuah desa di pinggir Bengawan
Solo. Di atas perahu penyeberangan sebelum sampai ke desa yang dituju ia
mendengar tentang bencana yang menimpa sang kekasih sekeluarga.



"Seminggu lalu ketahuan di rumah Partini menginap seorang pelarian PKI dari
Yogya, kakak dari Mulyohardjo. Orang itu dicincang rakyat sampai mati. Rumah
dibakar jadi abu". Rakyat tak pandang bulu. Tak punya pertimbangan dalam
melampiaskan amarah dan dendam kesumat yang sudah lama terpendam.

Seperti di daerah lain keluarga komunis hilang. Tak peduli Ibu Mulyo yang
buta huruf. Tak mau tahu dengan Partini dan adik-adiknya yang buta politik.
Politik tak punya mata. Mereka ikut hilang di tepi bengawan.



Si pemuda hanya bisa mengeluh tanpa daya

"Engkau dan seluruh keluargamu sudah tiada. Tiada kubur tempat ziarah,
seakan-akan engkau tak boleh diterima bumi, karena ayahmu komunis. Karena
pamanmu." rintihnya liris, mengiris-iris.



Selang beberapa saat, ia mengambil keputusan mendadak:
mengakhiri hidupnya sendiri dengan sebilah pisau yang disimpannya di balik
bajunya dan tercebur di dalam arus Bengawan Solo.



Cerpen "Leontin Dewangga" menceritakan seorang pemuda Aceh, Abdullah, yang
ditangkap pasca peristiwa 65 karena ia anggota Serikat Buruh Perfileman
yang berada di bawah pengaruh komunis. Ketika ditangkap di sakunya terdapat
surat ayahnya yang mengabarkan bahwa orang tua Abdullah akan naik haji
dengan menumpang kapal laut, yang akan memakan waktu tiga bulan. Surat
inilah yang menyelamatkan Abdullah, ia diizinkan aparat keluar tetapi harus
melapor setiap minggu.
Abdullah yang hidup gelandangan itu menawarkan tenaga
mengangkat barang-barang ibu-ibu penjual sayur di pasar Senen. Suatu hari
Abdullah bertemu dengan seorang ibu dari Bungur, pemilik warung yang
terpikat oleh tingkah-laku Abdullah. Saban usai mengangkat barang-barang,
Abdullah dihidangkan makanan oleh ibu tersebut. Selanjutnya, Abdullah
berkenalan dengan Dewangga Suciati, anak pemilik warung, yang kemudian
menjadi istrinya.

Sampai mereka mempunyai dua orang anak, Abdullah tidak pernah menjelaskan
kepada istri dan keluarga istrinya tentang dirinya. Istrinya tidak merasa
asing dengan percakapan antara Abdullah dengan tamu-tamunya. Percakapan
mereka mengingatkan Ewa akan percakapan ayahnya almarhum dengan
teman-temannya.

Ketika istrinya berjuang melawan maut karena kanker stadium
terakhir, Abdullah memutuskan berterus-terang kepada istri. Mendengar cerita
suaminya, Ewa meminta Abdullah membuka leontin yang terpasang di lehernya.
Ternyata di situ ada gambar semacam bulan sabit berwarna merah, lambang
gerakan tani yang melancarkan aksi sepihak untuk melaksanakan undang-undang
pokok agraria. Bahwa lima hektar adalah batas luas tanah yang boleh dimiliki
seseorang. Selebihnya direbut oleh para petani yang tak bertanah. Leontin
ini dikalungkan oleh ayah Ewa ketika ia berusia 17 tahun sebelum sang ayah
dibawa oleh seorang algojo yang dikirim oleh tuan tanah pada tahun 1965.
Sejak itu ayahnya tak pernah lagi kembali. Kemudian Ewa sendiri pernah
diperkosa oleh aparat keamanan ketika mencari ayahnya.



Cerita tentang surat ayah yang akan naik haji dan ternyat surat itu
menyelamatkan sang anak dari kurungan penjara juga dituturkan dalam novelet
Layang-Layang Itu Tidak Lagi Mengepak Tinggi-Tinggi. Apakah itu merupakan
kisah nyata dari kehidupan penulisnya sendiri atau sekedar imajinasi ?
Terlepas dari itu, fakta ini menunjukkan bahwa nasib orang-orang yang
dituduh terlibat G30S itu betul-betul tidak jelas. Penggolongan tahanan
politik menjadi golongan A (terlibat dan diajukan ke pengadilan) B (terlibat
tetapi tidak cukup bukti) dan C (simpatisan), betul-betul sesuka hati aparat
setempat. Wawancara bahkan kadang-kadang tes psikologis yang diberikan
kepada mereka tidak menjamin penggolongan itu dilakukan dengan cermat. Di
antara mereka tapol golongan B yang dibuang ke pulau Buru juga terdapat anak
di bawah umur dan orang yang sudah tua. Bukan hanya sarjana tetapi banyak
juga yang buta huruf.

Kisah perempuan yang menunggu maut menjemput karena kanker itu sendiri sudah
menyedihkan. Namun kisah cinta antara dua orang keluarga korban 1965 yang
baru saling mengetahui riwayat hidup masing-masing setelah maut akan
memisahkan mereka, betul-betul tragedi anak manusia. Jutaan orang di
Indonesia sampai hari ini masih dihinggapi trauma dan menutup identitasnya.



Cerpen "Ode bagi Selembar KTP" mengisahkan kehidupan seorang
perempuan yang pernah menghuni kamp konsentrasi khusus wanita Plantungan,
Kendal, Jawa Tengah. Stigma buruk terhadap orang-orang yang terlibat G30S
itu meskipun sudah ditahan bertahun-tahun tanpa proses pengadilan diawetkan
dengan memberi tanda ET atau ETP pada kartu tanda penduduk mereka. Dengan
hasil penjualan sebidang tanah warisan ayahnya, perempuan itu menyogok
petugas di kelurahan jutaan rupiah, sehingga ia memperoleh KTP yang bebas
dari tanda pengucilan tersebut.

Ia disesali oleh putrinya, karena uang jutaan itu bisa digunakan oleh
anak-anaknya untuk modal berjualan, membuka toko obras, melanjutkan sekolah
atau membuka bengkel. Tetapi sang perempuan sudah mengambil keputusan.

"Waktu telah mengajariku bahwa siapa pun tak bisa membuat kata-kata
menemukan kenyataan yang dijanjikannya. Aku tak bisa menunggu."



Perjuangan batin perempuan ini sungguh ganjil bagi masyarakat Indonesia pada
umumnya yang sama sekali tidak memiliki persoalan dengan KTP mereka. Tetapi
itulah kenyataan yang sangat diskriminatif yang menimpa para korban 1965
(sampai sekarang).



Kepedulian terhadap orang kecil tampak dalam cerpen "Suatu Ketika dua
pensiunan". Ternyata mereka yang sudah terbiasa berada di lingkungan yang
rentan terhadap tindakan kriminilitas, memiliki kiat untuk menghindari nasib
tidak sampai menggilas mereka. "Tak Ada Jumat, Tak Ada Fisika", menceritakan
perkawanan sesama penumpang KRL, seorang tua dengan seorang anak. Tetapi
ternyata lelaki itu dituduh menculik anak tersebut dan dipenjarakan. Dunia
sungguh tidak adil dan tidak ada hukum bagi rakyat kecil. "Sesungguhnya aku
tahu dengan hukum yang dihinakan seperti di negeri ini, apakah kami masih
punya hari Jumat lagi".

"Kembalilah ke Harmonikaku" tentang pengamen yang meniup harmonica di
sepanjang perjalanan kereta api listrik Jakarta-Bogor. Suatu ketika untuk
meningkatkan omset ia membeli dan memainkan karoke di atas kereta dan
ternyata disita polisi yang melakukan rasia. Karaoke itu disita oleh polisi
dan akan dikembalikan bila ditebus sebanyak Rp 140.000. Dari mana duit
sebanyak itu dapat dicari oleh seorang pengamen. Ia datang menghadap ke
kantor polisi dengan istrinya agar hati pak polisi bisa luluh. Tetapi
kenyataan tidak.

"Elegi untuk Anwar Saeedy", mengisahkan seorang tukang jual obat
asal Aceh yang pernah melanglang buana, namun terdampar di Jatinegara
sebagai tukang jual obat. Terdengar kabar ia bunuh diri, benarkah ?

Pada cerpen "Penjudi Togel dan warisannya", pemenang togel yang sudah
meninggal pun ingin diperas oleh aparat keamanan. Pada kesempatan ini
penulisnya

"Huripto mau menyumbang untuk pembangunan mesjid di jalan menuju Brebes.
Soalnya Pak Ripto tidak sudi orang-orang jadi peminta-peminta kepada para
penumpang bus, truk dan yang lain, apalagi dengan mempersempit jalan di
pantai utara Jawa. Jalan itu sudah diperlebar kok malah dipersempit



Dua cerpen yaitu "Perempuan di Depan Kaca" dan "Keteguhan Namamu, Bimbi"
berbicara tentang nasib perempuan. Pada "Aku Sepercik air" dituturkan
tentang perlawanan seorang perempuan menghabisi nyawa suami yang telah
menyia-nyiakan rumah tangga mereka. Seorang perempuan miskin yang tak rela
dimadu.

Impian dan perlawanan seorang pelukis terhadap kolektor dijumpai pada cerpen
"Kunang-Kunang Pelukis Kita". Di tangan pengarang ini, makhluk di luar
manusia pun diajak melakukan perlawanan[3]. Protes oleh kolam yang digusur
di TIM (Taman Ismail Marzuki) ada pada cerpen "Ratapan Kolam untuk Merdeka".
Pengarangnya menyebut hal ini sebagai "perlawanan terhadap keadaan yang
busuk". Seekor anjing melawan dalam " "Jangan Kembali Lagi, Juli". Ketika
Juli -- nama anjing itu--

Ketika semua lini kehidupan telah dipenuhi oleh suasana
ketidakadilan dan hukum tidak berjalan, apakah masih ada tempat berteduh di
kota metropolitan ini ? Ternyata di kantor perwakilan PBB pun (di Jakarta
?) terdapat keganjilan ("Kalau Boleh Engkau Kusembah"). Tatkala -jauh ke
masa depan-"Jakarta 3030" diserang oleh burung raksasa, maka sang pengarang
sudah menyingkir dari sana dan membangun sebuah pulau di kampungnya di
daerah Asahan.

Barangkali untuk lepas dari semua himpitan ini orang harus
merantau ke New York. "Ilyana tetaplah bersama kami" adalah contoh
perlawanan yang sukses. Perempuan Rusia itu memang tegar menyabung nasib di
Brooklyn, New York yang terkenal ganas.

Cerpen penutup ini merupakan klimak yang manis. Tujuh belas cerpen karya
Martin Aleida ini diawali dengan pemuda yang bunuh diri di Bengawan Solo
karena kekasihnya telah tiada dan diakhiri dengan perempuan Rusia yang
sukses berjuang di Amerika.



Pedang sembilu

JJ Kusni[4], mengatakan bahwa Martin menggunakan teknik yang digunakan
Ernest Hemingway dalam The Old Man and the Sea. Kisah itu bukan reportase
tetapi berisi pergulatan hidup manusia. Dengan cara bertutur yang lancar dan
pemilihan kata yang puitis, Martin memakai teknik flashback (membayang
ulang) dan kontras guna menonjolkan ide sentral serta watak tokoh-tokohnya
yang tergambar lewat suasana dan pengalaman yang sering sekali getir.

"Derai airmatanya memperkuat kebenaran dari apa yang pernah dikatakan oleh
ayahnya tentang betapa kelamnya dunia di bawah ancaman senjata dan
kekerasan". Anti kekerasan dan militerisme masih merupakan ide sentral
cerpen Martin. Selain kegetiran hidup.

Kritik terhadap militer terlihat pada tuturan berikut:
"Dan ketika dia memandang Abdullah yang terpaku di sisinya, tahulah dia
betapa tak terbandingkannya kekejian manusia berseragam hijau tadi dengan
kehalusan yang tulus yang dia terima dari suaminya. Di tangan suaminya itu
dia benar-benar terpuja sebagai perempuan." Dewangga yang oleh suaminya
dipanggil Ewa setelah peristiwa 1965 diperkosa oleh komandan kamp di
tempat ayah Ewa ditahan.


Kekuatan karya Martin Aleida (tidak ada hubungannya dengan Fifi Aleida
penyiar televisi swasta) terletak kepada semangat untuk memuliakan budi
manusia di bawah kerakusan dan kesewenangan sesama. Namun
kelemahannya -menurut Parakitri T Simbolon - pada karya Martin tercampur-
baur tokoh fiksi dan tokoh nyata. Namun sebetulnya fiksi yang digarap oleh
pengarang ini bertitik tolak dari kenyataan. Dengan gaya yang
menyayat-nyayat, fakta itu diolah menjadi fiksi dengan pedang sembilu.



Tidak menyerah

Lahir, jodoh, rezeki dan mati, di tangan Tuhan, demikian kata orang yang
beriman. Tetapi bagi mereka yang dianggap terlibat G30S, ada pihak lain yang
menentukan nasib mereka. Meskipun tidak meminta dilahirkan sebagai anak
seorang PKI, sang anak akan memikul "dosa turunan" yang seakan-akan
diwariskan orang tuanya. Perkawinan pun bisa batal bila diketahui salah
seorang pasangan itu "tidak bersih lingkungan" artinya memiliki keluarga
yang terlibat peristiwa 1965. Rezeki mereka jelas terhadang, karena korban
65 beserta keluarganya tidak bisa menjadi pegawai negeri bahkan pegawai pada
kebanyakan perusahan swasta terkemuka. Kematian telah dialami oleh mereka
yang dibantai tahun 1965/1966 atau yang meninggal secara tidak wajar di
tempat-tempat penahanan yang jumlahnya ratusan buah di tanah air termasuk
kamp terbesar di pulau Buru yang berkapasitas 10.000 orang.

Maka yang digambarkan oleh Martin Aleida dalam buku ini hanyalah upaya untuk
menertawakan atau mengejek nasib. Sungguhpun pada setiap cerpen itu
terkandung pesan untuk tidak menyerah. Itulah pesan utama dari karya sastra
perlawanan. ***




[1] Epilog untuk buku Martin Aleida, Leontin Dewangga, Jakarta: Penerbit
Buku Kompas, 2003.

[2] Peneliti LIPI. Lektor Bahasa/Sastra Indonesia pada Institut National des
Langues et Civilisations Orientales, Paris, 1984-1986. Juri anugerah sastra
Khatulistiwa Award, 2003.

[3] Sayang cerpen Martin Aleida berjudul "Kesaksian Ganja Kering, Basah Air
Mata", Kompas, 5 Oktober 2003 tidak termuat dalam kumpulan ini. Ganja kering
itu pun hidup dan bersaksi tentang pelanggaran HAM di Aceh dan di Indonesia.

[4] Budayawan asal Dayak yang memperoleh gelar doktor di EHESS, Perancis,
dan selama bertahun-tahun menjalani profesi sebagai tukang masak di
Restorant "Indonésie", Paris.

0 komentar:

Poskan Komentar

BUKU TAMU


ShoutMix chat widget
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger