KIBARKAN TRIPANJI PEMBEBASAN NASIONAL 1. HAPUSKAN HUTANG LUAR NEGERI 2. NASIONALISASI ASSET ASING 3. INDUSTRIALISASI NASIONAL

Sabtu, 15 Agustus 2009

Marxisme - Sebuah Kajian Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah





Oleh : A. Kohar Ibrahim

Sambutan
Atas Penerbitan Buku Karya Suar Suroso :
Marxisme - Sebuah Kajian


*
Suar Suroso :
Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah

Joesoef Isak :
Dambaan Kita Kedaulatan Rakyat

*

BERITA yang mengutarakan adanya hasil penerbitan ekspresi diri seperti buku itu selalu menggelitik hati dan pikiran teriring kegembiraan. Apa pula terbitan itu berupa hasil karya penulis yang saya kenal seperti Suar Suroso dengan bukunya yang terbaru berjudul Marxisme – Sebuah Kajian. Dan apa pula penerbitnya adalah Hasta Mitra dengan editornya seorang publisis pejuang yang kondang : Joesoef Isak. Dengan Sebuah Renungan Singkat sebagai pendamping yang tak kurang pentingnya kebanding Kata Pengantar sang penulis buku tersebut.

Buku dengan ISBN 079-8659-38-4 dan dengan kulitmuka yang apik oleh Nabil Argya itu berisi selain biodata dan pengantar penulis serta kata pendamping sang editor, berisi : (1) Arti Teori Perjuangan Kelas di Dunia. (2) Sosialisme Utopi Tanpa Perjuangan Kelas – Membangun Sosialisme. (3) Tokoh-tokoh Indonesia Tentang Sosialisme. (4) Mohammad Hatta tentang Sosialisme. (5) Bung Karno tentang Marxisme. (6) Tentang Kelas-kelas. (7) Tentang Diktatur Proletariat. (8) Jaya dan Rontoknya Diktatur Proletariat Sovyet. (9) Sosialisme Tidaklah Punah. (10) Diktatur Proletariat dalam Praktek di Tiongkok. (11) Sosialisme di Korea, Vietnam dan Kuba. (12) Kejayaan Sosialisme Berciri Tiongkok.

Demikianlah duabelas pasal yang disajikan Suar Suroso sebagai paparan sekaligus pendukung Marxisme – Sebuah Kajian dengan konstatasinya : Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah. Dengan kata pengantar yang menggaris-bawahi argumentasi sekalian keberpihakannya, antara lain sebagai berikut :

“Dengan ambruknya Uni Sovyet dan negara-negara sosialis Eropa Tengah dan Timur, maka bersorak-sorailah para penentang komunisme, penentang Marxisme. Di Indonesia ada yang menulis “Marxisme sudah usang dan ketinggalan zaman”. “Di negeri kelahirannya pun Marxisme sudah dicampakkan” “Secara ideologis, komunisme bukanlah ideologi yang menjanjikan. Inilah pertanda bahwa ideologi sosialisme, komunisme, marxisme-leninisme itu sekarang ini sudah finish”. “Di bawah rezim komunis, masyarakat mau bekerja hanya karena takut, ancaman mau dibunuh—dan jangan lupa 50 juta jiwa mati di Uni Soviet era rezim partai komunis”. “Ancaman komunisme tetap menghantui bangsa Indonesia. PKI telah dua kali memberontak, yaitu pada tahun 1948 dan tahun 1966”. ”Sebagai sebuah ideologi, komunisme tidak pernah mati. Dia terus mengembangkan pertentangan antar kelas: kaya miskin, buruh-pengusaha/majikan, juga petani-tuan tanah”. Ini semua adalah lagu lama yang didendangkan sekarang oleh kaum anti-komunis.
Marxisme sebuah kajian dinyatakan punah ternyata kiprah adalah tulisan untuk membantah pandangan-pandangan ini. Penulis berpendapat, bahwa Marxisme bukanlah usang dan daluwarsa, tetapi sedang berkembang maju. Memahami Marxisme akan bermanfaat bagi generasi muda yang dengan sungguh-sungguh mencari jalan keluar dari keterpurukan Indonesia, setelah berlangsungnya pembodohan karena didominasi oleh kediktatoran orba dibenggoli Soeharto. Kapitalisme dan feodalisme tidaklah mungkin memakmurkan bangsa Indonesia. Untuk mencapai sosialisme tak ada jalan lain, haruslah memahami dan mempraktekkan Marxisme.
Sungguh tragis, pembodohan secara sistimatis masih berlangsung di Indonesia dengan adanya larangan atas Marxisme. Tidak ada satu pun negara yang menjunjung demokrasi dan beradab di dunia dewasa ini yang dengan undang-undang melarang Marxisme atau penyebaran Marxisme. Betapa pun dilarang, sebagai ilmu, Marxisme tetap dicari dan dipelajari siapa saja yang sungguh-sungguh bertujuan berjuang untuk melenyapkan penindasan manusia oleh manusia.
Krisis moneter kapitalis yang melanda dunia akhir tahun 2008 telah membuka mata orang, bahwa kapitalisme bukanlah sistim ekonomi yang tanpa cacat, yang dapat diandalkan untuk menyelamatkan umat manusia. Tak ada jalan lain, pilihan jatuh pada sosialisme. Maka Marxisme tampil ke permukaan dengan daya tarik yang sulit dibendung.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Bung Koesalah Soebagjo Toer yang semenjak selesainya naskah ini menunjukkan perhatian besar untuk menerbitkannya. Dalam keadaan belum diterbitkan, bahkan naskah ini pernah dipamerkan dalam pameran buku tahun 2006 di Jakarta. Akhirnya, berkat perhatian dan usaha Pak Joesoef Isak, Hasta Mitra berhasil mengedit dan menerbitkan buku ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan pada Pak Joesoef Isak. Terutama atas Sebuah Renungan Singkat beliau yang memberi nilai tambah bagi buku ini.
Penulis mengharapkan dan akan sangat menghargai kritik-kritik dari para pembaca atas kekurangan isi buku ini. Semoga Marxisme sebuah kajian dinyatakan punah ternyata kiprah bisa bermanfaat dalam memperkaya khazanah kepustakaan Indonesia mengenai sosialisme. “

*

Joesoef Isak : Mendambakan Kedaulatan Rakyat

DEMIKIAN ujung kata pengantar Suar Suroso yang secara keseluruhannya sudah bisa mengundang tanggapan yang selayaknya. Dan yang cukup menggelitik adalah tanggapan pertama justeru datang dari sang editor penerbit Hasta Mitra itu sendiri, Joesoef Isak. Yang selain menegaskan soal yang jadi persoalan « The End of History and the Last Man » Francis Fukuyama, lebih menggarisbawahi akan betul-betul perlunya bagi kita terbebas dari ideologi luar, bebas dari paradigma Perang Dingin yang kontra-produktif bagi Rakyat dan Negeri. Berikut bagian Penutup Renungan Joesoef Isak :
“Selain Kedaulatan Rakyat, juga Kedaulatan Hukum dalam kaitan keamanan negeri dan individu setiap warganegara Indonesia tanpa kecuali harus ditegakkan dan dipelihara. Sinyalemen-sinyalemen tentang bahaya apa pun, termasuk bahaya PKI dan anak-anak PKI, harus serius diperhatikan dan ditindak-lanjuti sesuai hukum yang berlaku.
Untuk itu, sebagai negara hukum kita memiliki aparat Pengadilan, Kepolisian dan Kejaksaan. Semua kasus dengan unsur pidana apa pun – termasuk kriminalitas politik – harus diputuskan lewat Pengadilan. Vonnis harus dijatuhkan sesuai kejahatan yang diperbuat.
Sinyalemen-sinyalemen yang dilontar ke publik tanpa tindak-lanjut apa-apa akan menimbulkan keresahan. Benar-benar resah atau keresahan pura-pura, bisa juga banyak orang jadi bosan – akhirnya sinyalemen-sinyalemen tanpa ujung-pangkal seperti itu dianggap sepi oleh masyarakat. Kosong, cuma ramalan para prophers of doom, ocehan para dewa peramal kiamat, ramalan mengerikan yang tidak kunjung tiba. Hanya yang mengucapkan sinyalemen tahu apa motif latar-belakang dari segala ucapannya pada publik. Dari segi mukadimah UUD yang ingin mencerdaskan bangsa, hal seperti itu sangat negatif. Masyarakat tidak terdidik pada kenyataan yang ada, melainkan pada fakta semu yang dijejal-jejal dan harus dianggap sebagai kenyataan. Pada hal seluruh masyarakat perlu bersikap realistik untuk menangani segala masalah sesuai fakta yang ada – bukan realitas rekayasa hasil kutak-katik benak sendiri.
Berkali-kali kita ulangi di sini, Indonesia dan semua orang Indonesia – tentu terutama sekali seluruh aparat keamanan dan pengadilan – harus konsekuen kokoh pada identitas Indonesia sendiri, bersikap Mandiri demi kepentingan Indonesia dalam mengurus segala masalah: kesejahteraan ekonomi, keadilan sosial, juga segala urusan dan kasus di bidang keamanan, politik dan ideologi. Kita perlu betul-betul terbebas dari ideologi luar, bebas dari paradigma Perang Dingin yang kontra-produktif bagi Rakyat dan Negeri.
Inilah renungan-singkat kita pada saat mengkaji mana yang unggul antara Marxisme dan Kapitalisme; mana paling bermanfaat bagi Rakyat kita. »
Demikian kutipan bagian Penutup Renungan dari Joesoef Isak yang mendampingi buku karya Suaro : Marxisme Sebuah Kajian. Renungan yang juga secara keseluruhannya layak simak.
*
Kohar : Benarlah Yang Benar Yang Salah Salah
BENAR memanglah benar yang benar yah benar. Seperti memang benarlah sikap-pendirian saya yang tiada berubah, yakni senantiasa gembira bila mendengar atau mengetahui adanya hasil terbitan. Semata-mata adanya hasil itu merupakan bukti ekspresi dari hidupnya hak-hak azasi manusia.
Sikap-pendirian itu saya emban sejak awal mula berkecimpung di bidang tulis-menulis selaku jurnalis-penulis ; kemudian dalam periode tertentu selaku publisis – terbitan yang bisa digolongkan « pers alternatip ». Kongkritnya, ketika turut mengelola majalah Pembaruan dan mengeditori majalah-majalah Kreasi, Arena dan Mimbar (1989-1999). Upaya terbitan majalah-majalah selain brosur dan buku-buku dalam periode itu, antara lain : …dimaksudkan untuk turut memberi sumbangan bagi perkembangan kebudayaan Indonesia yang demokratik dan yang menghormati hak-hak azasi manusia. (Majalah Kreasi N° 1, 1989). Jelas pula, terbitan yang meski sederhana namun yang bernomor ISBN/ISNN serta beralamat jelas di Holland itu, merupakan pertanda dari eksistensi sekaligus sebagai bentuk perlawanan kami, para penulis yang diberangus oleh penguasa OrdeBaru.
Saya utarakan perihal upaya penerbitan tersebut semata-mata untuk sekalian menegaskan bahwasanya diantara para kontributornya adalah Bung Suar Suroso – istimewa sekali sumbangan karya tulis berupa puisi dan esai-esai-nya untuk Majalah Opini & Budaya Pluralis Arena.
Dan saya utarakan perihal upaya penerbitan kami tersebut semata-mata untuk menunjukkan kebenaran adanya bukti tertulis akan ragam macam opini yang menanggapi realita-aktualita masa itu – istimewa sekali yang berkaitan dengan sikon nasional dan internasional. Seperti, justeru, antara lain perihal evenement Runtuhnya Imperium URSS dan adanya konstatasi « The End of History »nya Fukuyama yang intinya adalah kecaman terhadap Marxisme, Sosialisme dan Komunisme. Dengan ujung tombak terhadap apa yang disebut « Blok Timur » atau « Kubu Sosialis » yang dikepalai URSS sebagai lawan dari « Blok Barat » atau « Blok Kapitalis » yang dikepalai Amerika Serikat dalam prahara « Perang Dingin ».
Benarnya memang benar, bahwasanya dalam suasana hingar-bingar di arena mondial antara pro-kontra terhadap ideologi Marxisme dengan para lawan-lawannya macam Fukuyama itu, via Majalah Pembaruan N° 13 Th 4 Mei 1987 kami siar naskah berjudul « Prométheus Sang Pembawa Obor ». Sebagai bukti salah satu upaya pencerahan kami untuk pembaca yang bertanya-tanya apa-siapa Prométheus yang tertera dalam sajak penyair dan pejuang kebebasan Pilipina Jose Maria Sison dalam Pembaruan nomor sebelumnya. Baris-baris sajak tersebu sebagai berikut : « Penderitaanku apalah artinya / terbanding berjuta-juta mereka yang hidup sengsara / Prométheus mengidap dalam tiap dada manusia / yang haus akan pengetahuan dan kebebasan / Para dewa, mereka, mati dan terlupakan. » (hlm 27)
Prilaku Prométheus, lanjut artikel yang saya susun itu, banyak diungkap dalam karya seni. Terutama sekali dalam kesusastraan, seperti dalam karya-karya Hesiode, Eschyle, A.W. Schlegel, Byron, Schelley dan André Gide. Yang pada pokoknya menggambarkan Prométheus sebagai simbol pemberontakan manusia melawan tyrani, dan simbol kecintaan manusia akan kebenaran dan cita-citanya. Sebuah karya Eschyle, dari judulnya saja sudah terungkapkan simbol sekaligus jiwanya : Prométheus Pembawa Obor. Obor yang mengungkap kegelapan dan menerangi jalan bagi kemajuan umat manusia.
Itulah sebabnya Prométheus menjadi teladan kaum humanis sejati seperti Karl Marx. Yang dalam karya-karya permulaannya sudah mengagungkan Prométheus dan menderetkannya di barisan terdepan dari « para pahlawan sejadi dan saint-ahli-filsafat ». Sudah sejak masa mudanya Marx tercengkam oleh tuntutan ala Prométheus : Semakin keras hujaman penderitaan, perantauan politik (exil), penyakit, kematian amat menyedihkan anggota keluarganya, semakin membara pula kemauannya yang membaja akan kebebasan, semakin cerlang cemerlang berkas-berkas kebenaran terpancar dari mahluk yang kegandrungannya menggebu-gebu ini, dimana tuntutan akan kejernihan dan kejujuran ditingkatkan sedemikian rupa tingginya hingga membawanya ke jurang penghidupan yang sulit. Dalam sepucuk surat yang ditujukan kepada seorang sahabat, setelah merampungkan jilid pertama Kapital, antaranya berbunyi : « …Kenapa aku tidak menjawab suratmu ? Karena setiap saat aku hampir masuk ke liangkubur. Selagi aku masih mampu bekerja, aku mesti mencurahkan seluruh waktuku untuk merampungkan karyaku. Untuk mana telah kukorbankan kesehatanku, kebahagiaan hidupku dan keluargaku. Kuharap penjelasan ini takkan memancing komentar apapun. Orang yang menamakandirinya manusia yang berpraktek membikin aku gelaktawa dengan kebijaksanaannya… Tapi aku akan betul-betul dianggap sedikit berpraktek, jika sampai ajalku tanpa palingtidak merampungkan naskah bukuku. »
Demikian Marx, yang saya petik dari buku Les Marxistes Editions J’ai Lu, Paris 1965 halaman 20. Semata-mata untuk menguatkan argumentasi, bahwasanya « Sebagaimana halnya Prométheus, dengan ajaran-ajarannya Marx adalah pembawa obor untuk mengungkapkan kegelapan dan menerangi jalan perjuangan bagi kehidupan umat manusia yang luhur. Seluruh sejarah yang berlangsung di abad modern ini ditandai oleh Marxisme yang melingkupi kehidupan beratus-ratus juta manusia. » (Pembaruan N° 13 hlm 28-29).
Benarlah memang benarnya benar, bahwasanya apresiasi saya baik secara tersurat maupun tersirat akan apa-siapa Karl Marx dan pemikirannya yang disebut Marxisme itu jelas berlainan dengan pakar Fukuyama dan yang semacamnya yang sedang ngetrend saat itu. Yakni kaum yang secara sadar maupun yang apriori menentang Marxisme – Sosialisme dan Komunisme – baik di arena internasional maupun nasional. Dari para pengecam itu, antara lain salah seorang wartawan senior, yang dilansir Kedaulatan Rakyat (05.12.1989) menyatakan bahwa, peristiwa yang terjadi di « Blok Timur » itu sebagai « proses rontoknya sistim komunisme/marxisme/leninisme » yang telah « dimuntahkan oleh rakyat ».
Yang tak kurang lucunya, Subagijo I.N. dalam tulisannya di Kedaulatan Rakyat itu mengutarakan rekaannya yang menyinggung adanya orang-orang Indonesia yang tidak bisa pulang sebagai kaum komunis yang « ikut-ikutan belaka », « sedang kebingungan dan kehilangan kiblat. » Sungguh konstatasi macam itu adalah serampangan belaka, jauh dari realita obyektip. Bahwasanya, yang benar adalah adanya ragam macam opini dalam mereaksi apa yang terjadi di « Blok Timur » khususnya, dalam « GKI » (Gerakan Komunis Internasional) pada umumnya. Bahkan, adalah pendapat yang jelas menyatakan, bahwa : « …Yang telah gagal dan rontok adalah sistim Stalinis, ‘sosialisme ala Stalin’ atau Breznev dan semacamnya. »
Begitulah salah satu macam dari ragam pendapat, seperti diutarakan oleh Sybrata dalam naskah-naskahnya di Majalah Mimbar N° 1 Th I 1990 Penerbit Stichting Indonesia Media, Amsterdam, ISSN 0925-5176.
Majalah MIMBAR (Informasi Studi Diskusi) – Majalah Opini Pluralis – Nomor perdana itu justeru berisi serangkum naskah : Masalah-masalah Sosialisme Dewasa Ini. Naskah-naskah dari Arief Budiman, Asnan, Jose Fort, Liem Soei Liong, Subakat, Sybrata dan V. Zelenin.
Kiranya cukup menggelitik apa yang dipaparkan oleh Liem Soei Liong dalam artikelnya bernada pertanyaan : « Pasca Tembok Berlin, Matinya Ideologi Sosialis ? » in Mimbar N° 1 halaman 19-29. Setelah menganalisa perihal « Layunya negara adikuasa » baik Uni Sovyet maupun Amerika Serikat, Liem sampai pada soal « Anjloknya blok sosialis ». Dengan sarkasmenya mengungkap ke-tidak-benar-an pandangan Francis Fukuyama yang menyatakan « Sejarah telah berakhir » itu. « Masalahnya sekarang apa yang dimaksud dengan Fukuyama dengan sistim sosialis dan faham atau ideologi Marxis…. » (hlm 25). Bagi Liem, «ambruknya blok sosialis…bukan berarti ambruknya sosialisme melainkan ambruknya stalinisme (dan juga leninisme). » (hlm 26). Lanjutnya, « yang pasti juga adalah ambruknya sistim totaliter di Eropa Timur merupakan angin segar bagi mereka yang masih setia pada cita-cita sosialis. Imago sosialis selama ini cemar karena diidentifikasi dengan bentuk-bentuk Stalinisme yang dominan di sana. Sekarang mulai era baru dimana demokrasi sampai keujung rambut merupakan bagian integral dari struktur sosialis. Arus demokrasi akan menjadi fenomena politik yang utama ditahun-tahun mendatang. Dampak demokratisasi di Eropa Timur dan usaha serupa di Brasil dan Chili akan terasa juga di Indonesia. Totaliterisme tipe Suharto sudah usang dan sampai dikalangan elit Jakarta pun kesadaran ini mulai berkembang. Sekarang tinggal mengembangkan faktor subyektifnya yaitu organisasi dan penggalangan massa. Ersatz capitalism yang dipertahankan kelompok Suharto sedang dilanda roda sejarah, anti-komunisme-nya rejim Suharto pun sudah tidak laku, tinggal mendongkelnya rame-rame. » (hlm 28-29)
Adalah naskah-naskah penting lainnya pengisi Majalah Mimbar nomor perdana itu yang layak kaji dan dijadikan bahan diskusi. Yakni tulisan Subakat berjudul « Masih Adakah Yang Dapat Kita Kerjakan ? » atau « 7 Tesis Untuk Perdebatan Rekonstruksi Gerakan Sosialis Revolusioner di Indonesia. » (hlm 42-63)
Yang layak disimak dari pemaparan yang diajukan oleh Subakat dengan « 7 Tesis »nya ini iyalah kentalnya pengaruh pemikiran Leon Trotsky. Suatu naskah yang jadi lebih menarik sebagai bahan bandingan dengan tulisan dari penulis berkecenderungan sosialis lainnya seperti Arief Budiman berjudul : «Tanggal 7 Bulan Februari 1990 Di Uni Soviet » (hlm 36-41)
Selanjutnya, naskah dari teoritikus Asnan : « Masalah Sosialisme Dewasa Ini ». Suatu upaya pengupasan masalah-masalah posisi & peranan partai komunis, kekuasaan negara sosialis, ekonomi sosialis dan teori sosialisme.
Dalam bahasan yang diutarakan Asnan, antara lain dinyatakan bahwa apa yang terjadi di Eropa Timur boleh saja disesalkan pun boleh tidak perlu disesalkan. Disesalkan, lantaran « harapan-harapan jutaan pejuang dan rakyat akan terciptanya suatu masyarakat sosialis yang meniadakan borok-borok kapitalisme belum dapat diwujudkan di negeri-negeri itu… Di pihak lain, tidak perlu disesalkan atau disayangkan. Sebab yang dibangun di negeri-negeri itu bukanlah sosialisme sebagaimana dicita-citakan dan diperjuangkan oleh kaum sosialis dan komunis. Praktek-prakteknya bahkan mencermarkan citra sosialisme sehingga dibenci dan ditolak oleh rakyatnya. »
« Boleh dikata, » lanjut Asnan, « bahwa kejadian-kejadian di Eropa Timur menutup suatu fase dalam perkembangan sosialisme. Tapi ini samasekali tak berarti habisnya atau berakhirnya sosialisme. » Ditegaskannya, bahwa : « Sistem kapitalisme tetap tidak mampu memberi jalan keluar. Mayoritas rakyat di dunia ini yang hidup di bawah kapitalisme menderita kesengsaraan dan kemelaratan. Mereka tak akan menghentikan usaha dan perjuangannya untuk suatu masyarakat yang adil dan makmur, suatu masyarakat sosialis. Demi menjaga terulangnya kesalahan perlu kerjasama dan perpaduan antara kaum komunis, kaum sosialis dan semua kekuatan politik yang ingin bebas dari penindasan kapitalisme dan mewujudkan masyarakat sosialis, masyarakat yang demokratis dan manusiawi. » (hlm 87)
Kiranya cukup menggelitik, dalam naskah salah seorang teoritikus Marxis sekaliber Asnan itu, mensitir makna penting anjuran Mao Zedong agar « seratus bunga mekar bersama dan seratus aliran bersaing suara ». Seraya menandaskan, bahwa : Dalam memupuk semangat toleransi patut dijunjung ucapan Voltaire, pemimpin Perancis yang terkenal : « Sungguhpun aku membenci pandanganmu, tapi akan kubela dengan jiwaku sendiri hakmu untuk mengutarakannya. »
DEMIKIANLAH sekedar bukti nyata dalam tulisan yang tercetak dari beberapa pandangan Marxis yang menunjang tulisan berjudul « Benarnya Yang Benar Yang Salah Salah ». Iyah, memang benarlah adanya kebenaran opini yang membantah yang salah berupa pernyataan « Sejarah Telah Berakhir » nya Francis Fukuyama.
Benarnya opini yang benar atas yang salah – yang diutarakan kurang-lebih dua dasawarsa yang lalu itu teruji kebenarannya. Benarnya bahwa runtuhnya imperium Uni Sovyet bukan berarti runtuh atau matinya Marxisme sekalian gerakan Sosialis dan Komunisnya di bola bumi yang bundar ini. Bahkan, di atas puing-puing « Blok Timur » sendiri, aliran dan gerakan tersebut masih terus eksis hingga dewasa ini. Bahkan juga, di negeri-negeri eks-kediktaoran Amerika Latin, Marxisme dan gerakan Sosialis kian banyak diminati.
Begitulah pula halnya di Indonesia sendiri. Meskipun Marxisme telah diharamkan sejak berdirinya rezim OrdeBaru bahkan hingga kini, organisasi-organisasi dan pengikut serta simpatisan bahkan mereka yang hanya diduga-duga saja pun mengalami penindasan yang luarbiasa, namun teori atau ajaran Karl Marx dan Engels itu tidak bisa terbasmi. Terbukti, dengan satu atau cara lain, kendati dalam ancaman penjara atau maut, Marxisme senantiasa diminati oleh sementara kalangan orang. Bahkan, selain adanya beragam terbitan kiri, belakangan ini buku karya Marx yang paling penting berjudul Kapital telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia.
Dalam konteks sikon seperti itulah, benarnya ungkapan Suar Suroso untuk menunjang hasil karya tulisnya berupa buku berjudul « Marxisme – Sebuah Kajian », bahwasanya yang « dinyatakan punah malah kiprah ».
Semoga buku yang merupakan sumbangan penting demi memperkaya kepustakaan Indonesia menjadi salah satu bahan pertimbangan berharga pula bagi para pembaca yang berkenan. Bagi para peminat untuk memperluas wawasan, memperhangat diskusi atau perdebatan. Diskusi dan atau perdebatan yang selayaknya. Dengan dada lapang menggunakan nalar mau dan mampu mendengar keberbedaan maupun kebersamaan ; secara kritis berupaya mengungkap mana yang benar mana yang salah. Dalam rangka menimba pelajaran dari pengalaman, memetik yang dianggap bermanfaat seraya menanggalkan yang tidak. Manfaat bagi perjuangan untuk perwujudan masyarakat yang aman, adil dan makmur. Masyarakat manusia yang manusiawi atau masyarakat sosialis yang selayaknya.
Akhirul kalam, dapatlah diketahui bahwasanya tulisan ini hanyalah sebatas sambutan atas penerbitan buku itu sendiri dan bahan yang saya terima berupa Perkenalan Buku dari Bung Suar Suroso belaka. Karena belum saya miliki, maka isi keseluruhan buku tersebut belum lagi saya telaah adanya. ***

(A.Kohar Ibrahim)

0 komentar:

Poskan Komentar

BUKU TAMU


ShoutMix chat widget
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger