KIBARKAN TRIPANJI PEMBEBASAN NASIONAL 1. HAPUSKAN HUTANG LUAR NEGERI 2. NASIONALISASI ASSET ASING 3. INDUSTRIALISASI NASIONAL

Sabtu, 15 Agustus 2009

Apresiasi Atas Kreasi Puisi Penyair Lekra


Oleh: A.Kohar Ibrahim

SAYA kira memang iya, bahwasanya apresiasi seni dan sastra tak lepas dari kepentingan dalam segala ragam dan format atau skalanya. Kepentingan orang perseorangan, sepasangan, golongan atau kelompokan, faksi, gundukan, kawanan atau klik . Kepentingan itu bisa saja macam kepentingan rasa kepuasan, kepentingan ideologi, politik dan ekonomi ataupun gabungan dari padanya. Seringkali kepentingan demi selera, demi sesuap nasi atau sepotong roti yang bisa berdimensi posisi atau kedudukan atau yang UUD (ujung ujungnya duit) ! Begitulah yang hakiki, disamping embel-embel atau busah-busahnya.

Ketika kaum Manikebuis mengapresiasi hasil karya seni, khususnya seni sastra, lebih khusus lagi puisi-puisi karya penyair Lekra, nadanya adalah kental sekali ber-panglima-kan politik bos mereka, yakni kaum militer kanan yang anti-komunis. Dengan angkuh dan gegabah menilai hasil karya orang-orang Lekra itu rendah. Cuma “seribu slogan nol puisi”. Sikap arogan karena merasa kaum elit pengibar panji “l’art pour l’art” terhadap pengibar panji “seni untuk rakyat” yang bersemboyankan “politik adalah panglima”. Semboyan yang dimulut dikecam habis-habisan oleh kaum Manikebuis tetapi dalam perbuatan dilakukannya juga – dulu bahkan sampai detik ini. Sikap arogan dan kemunafikan itu berkesinambungan – lebih-lebih lagi semasa jaya-jayanya rezim paranoia OrBa.

Demikian aku terkesankan, dalam katian sebuah sajak Mawie Ananta Jonie “Kunanti Bumi Memerah Darah”. Oleh Hasan Aspahani sajak itu diapresiasi sebagai bukti “Begitulah tema dan gaya umumnya sajak-sajak penyair Lekra/PKI dan LKM/PNI yang terbit di lembar kebudayaan surat kabar kelompok itu, Harian Rakyat dan Bintang Timur (Lampiran Kebudayaan Lentera).”

Sungguh disayangkan cara Hasan dalam mengapresiasi hasil kreasi berupa sajak-sajak penyair Lekra (bahkan juga LKN – bukannya “LKM” seperti tulisnya) kentara hanya ikut-ikutan nada kaum Manikebuis senior macam GM, Ikra dan Taufik Ismail. Saya bilang demikian lantaran tak yakin Hasan telah menyimak banyak sajak-sajak para penyair Lekra periode 1950-1965 yang tersiar bukan hanya di koran-koran seperti yang disebutkan itu, melainkan juga koran-koran lainnya di Pusat maupun di daerah; juga di majalah-majalah, terutama sekali majalah Sastra dan Seni Zaman Baru.

Bisalah dimaklumi, kalaupun Hasan akan bilang bahwa gara-gara politik budaya OrBa paranoia, dia tak berkesempatan dengan mudah melacak-simak hasil kreasi sastrawan dan penyair Lekra yang dibrangus sang penguasa. Maka dari itu hanya bisa mengikuti nada irama kaum Manikebuis senior saja, seperti sebuah buku yang disitir Ikra dan yang dengan bangga ditekuninya itu. Tetapi, baru-baru ini, kiranya bisa disimak dalam terbitan berupa buku Trilogi Lekra Tak Membakar Buku. Dalam kumpulan puisinya berjudul Gugur Merah yang berisi beratus-ratus sajak karya 111 penyair. Bukan tak mungkin, setelah menyimaknya, Hasan bisa dengan jitu dalam menggunakan daya apresiasinya.

Sementara itu, dalam kaitan ini, sebagai pelengkap, saya turunkan seberkas puisi dari 3 penyair Lekra: Rivai Apin, S. Rukiah dan Agam Wispi.

*

E l e g i

Oleh: Rivai Apin

Apa yang bisa kami rasakan, tapi tak usah kami ucapkan
Apa yang bisa kami pikirkan, tapi tak usah kami katakan
Janganlah kau bersedih – dan mari kami lanjutkan
Kami bawa ini kebenaran ke bintangnya dan ke buminya.

Kami pun tahu, karena ada satu kata dari kau yang kami simpan
Satu pandang dari tanah retak menggersang,
Lalu sedu menyesak dada,
Ah, kenangan padamu kan terus memburu,
- menakutkan seperti bayang di pondok
seloyongan, bila pelita telah dipasang.
Tapi penuh kasih seperti Bapak yang
mengulurkan tangan
Dan kau kembali, seperti di hari-hari dulu
ketika kau dan ini bumi mendegupkan hidiup.

Kami tak kan lupakan kau, ketika memburu dan ketika lari
- karena apa yang kami buru dan apa yang kami lari
untuk itu mau serahkan nyawamu
Dan kami yang menimbang jasamu
Pun tahu, seperti kau pun tahu, bahwa tak ada
Dewa atau Tuhan lain yang berharga untuk
dihidupi selain itu

Berhembus pun topan di padang tandus ini
Tapi tampak kami yang tertanam di padang
gersang, di mana kau dalam terkubur
Melanjutkan nyala, dan kami yang tegak
berdiri di sini ialah api.
Kita tahankan hidup di ini malam, yang akan melahirkan siang.

Kita adalah anak-anak dari satu Bapa
Kita adalah anak-anak dari satu Ibu
Dan mati bagi kita hanyalah soal waktu
Tapi kita semua mempertahankan satu Tuhan.

Adik yang akan datang, Kakak yang telah pergi
Kita angkutlah ini tanah-tanah yang retak,
ini tanah-tanah yang gersang,
Keberatan beban, kesakitan bahu memikul, dan
kepahitan hati akan kekalahan
Akan menyaratkan cinta pada kepercayaan
yang kita peluk.

(Majalah Siasat, 9 Januari 1949; Majalah Kreasi N° 24 1995)

*


Kenangan Gelita

Oleh: S. Rukiah

(buat Eska di Kaki Gunung)

I

Malam ini aku mau lagi bercerita,
dan bila cerita ini satu-satu kutulis dengan jariku
buatmu cuma jadi satu cerita kegelitaan
ketika malam kosong berpisahan dengan bulan

Seperti juga kita di hari kini
di mana batas sampai tepi langit di jauhan
di mana segala anak-anak manusia
terima satu perintah jangan melanggar ini batas
di sini kita berpisah
antara dinding penjara dan pegunungan

Aku lihat di celah besi-besi kaku tak bercerita ini
engkau diburu macam hantu pelarian
jauh ke sana di antara daunan kering yang berjatuhan
di mana teriakan suara makin kecil hilang-hilang
sedang aku di balik terali dingin
tergolek mau bermimpi malam kenangan.


II

Biar sekali ini aku tak ada melihat laut
kapal-kapal juga semua sudah berlayar
angin lari dan bintang tidur satu-satu
tapi aku tak kepergian suaramu
meski malam selalu warnanya hitam
sebab lantai dingin dan tembok putih ini
sekali-sekali ia mau memberikan jalan
buat angin pagi dari suara pegunungan.

Dan bila angin itu bisa kembali sebelum mati
akan kupinta satu pena kuno yang runcing
serta tinta merah yang selalu basah tak kering-kering
dan biarlah aku akan bikin satu cerita panjang-panjang
atau menulis sajak yang banyak
meskipun dikatakan: ini bukannya cerita Tuhan !


III

Tapi pernahkah melintas di tempatmu
malam kenangan di malam gelita pegunungan ?

Pabila ada juga padamu
di antara rintik-rintik hujan senja
atau bunga-bunga hutan yang berserakan
tak kan kuhabiskan kenangan ini
biarlah akan kususun cerita ini dari malam ke malam lagi
tak peduli aku jadi gadis tua di balik penjara
karena sekali kenangan ini akan berakhir
kita bertemu di antara meja dan bunga merah
sambil minum air yang bergula manis-manis.

Kita mulai bercerita dangkal-dangkal tak tahu bentuk
dan aku akan ketawa dan ketawa !
hingga berakhir dengan cerita kenangan gelita ini
ketika malam kosong berpisahan dengan bulan.


IV

Tapi bila dalam satu pagi
bulan ini masih tampak seperti gambar sabit emas
atau bintang-bintang seperti bunga tanjung kecil-kecil
inilah mungkin waktunya aku buka cerita panjang
atau aku bacakan sajak penjara yang dulu
dan pengalaman hidup yang panjang penuh dengan luka-luka.

Cuma di sini
Masih ada yang mau aku katakan:
Engkau memang diburu, tapi bukan pelarian
aku memang di penjara, tapi bukan manusia kurungan.
Kita bukan orang pelarian yang
masing-masing tidak punya satu dunia.

Tapi Eska !
Kenanglah sekali cerita kenangan ini
bila engkau telah cape menginjak batu-batu pegunungan
atau telah benci mendengar cerita darah
atau cerita maut, dan cerita busukan manusia
engkau akan tulis di satu buku harian:
kita dua manusia yang cinta kepada cinta !

(Majalah Zaman Baru 25-26 1958; Majalah Kreasi N° 40 1999)

*


Sajak-sajak oleh: Agam Wispi


Perahu Pinisi Tak Boleh Merapat

begitu cepat matahari tenggelam
kilau emasnya tinggallah tembaga
begitu cepat sarat muatan
perahu pinisi, daratan bagimu hanyalah duka

Makassar, 2 April 1964.

*

Menjelang Mendarat

pulau-pulau jamrut cemerlang
memanggil dengan suara lantang berdentang
hasrat kuat akan kemerdekaan
dan berkelilingan kilau danau dengan laut terbentang
jam berapa pesawat melambai Menado ?
anakku, di atas awan kuingat kau

Makassar-Menado, 4 April 1964.

*

Menyusur Tondano

jip melambung berguncang-guncang
hadap-hadapan bukit, danau dan hutan
tenang kereta-kuda berderak memintas sawah
kusirnya petani muda yang ketawa dan gadis bersutera merah

menyusur danau jip berguncang-gucang
Tondano tak berteriak, bagai rumah tua yang ditinggalkan
dan kulik elang menjauh hilang
tapi petani itu mukanya riang mentertawakan:
jalan jelek ! sabarlah, kita baru habis perang

*

Tinoor

para lelaki sudah pergi
atau mati
yang kembali ketinggalan hati
di tanah seberang di kota ramai
pulangnya tak berarti

kami yang meromok tinggal di sini
tak lagi bisa bersedih
dulu dari jaman kompeni
para lelaki sudah pergi
atau mati

maka minumlah saguer, abang
selagi singgah di sini dan gunung akan didaki
pandanglah lembah menjemput lautan
sebelum Menado ditinggalkan, mari bersenang
mari bersenang – walau dilupakan

Tondano, 8 April 1964.

*

Pertemuan Di Danau

danau putih
sajakpun putih
di Toba tenggelam sepenggal kasih

sampan telungkup
aku berenang megap-megap
ke tepi
tapi menang apalah arti
kalau indah hanya seperti buih

asap mesiu mengantarku ke danau Manindjau
dan kenangan melayah ke duniaku yang hijau
sungguh, danau tiada lagi putih seremaja dahulu
dan kebahagiaan hanya tergenggam bagi yang tahu

jip mendaki dan menyusur danau Sentani
Kota Baru meraih jauh, kami berlari-lari
betapapun becermin rimbun daun dan akar berjuntai
kemenangan yang remaja, padamu juga hari-tua melambai

sampai aku di danau paling utara
Tondano, dukamu tak bisa kulupa
para lelaki tak pulang, entah mengapa aku terkenang
pahlawan kebahagiaan mati di tanah buangan: Ali Archam

dan di sini, diantar perjuangan yang sedih
danau Batur, kubu dari lahar dan abu menyembur
para turis kagum berpura sedih
tapi rakyat itu dengan tangannya yang perkasa
jalan bergandengan dan bernyanyi
meski mengantar mayat ke kubur

Kintamani, 26 April 1964.

*
Catatan:
Sajak-sajak Agam Wispi – Perahu Penisi, Menjelang Mendarat, Mercusuar Tondano, Tinoor dan Pertemuan Di Danau -- dipetik dari majalah Zaman Baru N° 7 1964; dimuat ulang majalah Kreasi N° 9 Th 1991.
Majalah Kreasi terbitan Stichting Budaya Amsterdam, ISSN-0923-4934. Editor: A.Kohar Ibrahim, mantan redaktur majalah Zaman Baru (1963-1965) di bawah pimpinan Rivai Apin dan S. Anantaguna.
Ilustrasi: Komposisi Eksekusi II – karya lukis Abe alias A.Kohar Ibrahim, cat akril di atas kanvas. ***

0 komentar:

Poskan Komentar

BUKU TAMU


ShoutMix chat widget
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger